Friday, 4 November 2016
Salam Untuk Panglima FPI Habib Rizieq
Yang terhormat Habib Rizieq,
Kami di daerah sudah lama mengenal Bapak Habib Rizieq Shihab sebagai Panglima dan Ulama Besar Front Pembela Islam (FPI). Nama bapak ada gelar habib-nya. Sebuah gelar yang sangat amat mulia. Saya sudah bisa membayangkan di daerah asal bapak di negeri Arabia sana, pasti karir bapak jauh lebih mentereng dibandingkan berkarir di Indonesia. Apalagi bapak hanya menjadi panglima di salah satu kelompok organisasi masyarakat (ormas) yang tanpa berbadan hukum.
Bapak juga sekarang berada di sebuah negeri yang memiliki falsafah hidup Pancasila yang sangat kau benci itu. Negeri yang pluralis.
Walaupun demikian, bapak adalah tokoh yang fenomenal di negeri yang majemuk ini. Posisi bapak sekelas legenda hidup Bang Haji Rhoma Irama. Di saat Bang Haji namanya tak kedengaran, nama habib makin dan terus terkenal. Hebatkan? Saya juga tahu teman-teman bapak itu semuanya politisi kelas wahid. Mereka juga adalah orang-orang yang terkenal di negeri ini. Makanya semua orang pada takut kalau mau menghadapi engkau.
Tapi, sikap dan perangai bapak akhir-akhir ini cukup menggentarkan negeri ini. Kami sekelompok anak muda yang ingin hidup damai di negeri ini merasa terganggu dengan sikap Anda dalam menghadapi keberagaman yang adalah suatu keniscayaan bagi Indonesia.
Bapak Habib Rizieq yang terhormat,
Apakah bapak bisa menjadi seorang panglima pemberani yang membela Islam di negara-negara yang sedang dikuasai oleh ISIS?
Dengar-dengar mereka juga meminta bantuan dari negara-negara yang kau cap kafir itu supaya mereka bisa hidup damai. Akhirnya habib benar. Orang kafir itu memang salah dan bodoh. Salah dan bodoh karena suka menolong sesama manusia.
Bapak habib Rizieq, apakah Indonesia itu tidak aman sehingga butuh pembelaan yang luar biasa sampai-sampai mengobarkan isu SARA segala?
Jalan-jalanlah ke Nusantara nan indah ini, bib. Coba berkunjunglah ke Kupang betapa rukunnya mereka di sana. Tidak ada kata haram segala atau kofar – kafir di sana seperti yang sering keluar dari mulutmu itu. Atau ke kota Ende yang sudah menjadi Kota Pancasila. Ketika Katolik dan Islam hidup rukun di sana. Atau berkunjunglah ke kota Waingapu di Taman Kota-nya kami duduk menikmati malam tanpa nunjuk-nunjuk dan bertanya : hai apa agama kau? Apakah itu tidak menyenangkan, bib?
Saya tahu masalah primordialisme ada dimana-mana dalam proses menentukan calon pemimpin. Tapi kalau demo karena masalah SARA yang terang benderang seperti di Jakarta kami sangat malu. Amat malu. Dan ini jarang terjadi di NTT. Tapi di kota kebesaranmu Jakarta demontrasi tentang SARA seperti ingin menunjukan jati diri siapa dirimu.
Padahal sejak dahulu kala ketika saya bisa mendengar dan membaca yang saya tahu bahwa Bhineka Tunggal Ika itu berbeda-beda tetapi tetap satu. Itu nama mata pelajarannya Pendidikan Moral Pancasila, bib.
Habib, kenapa mesti ada demo Aksi Bela Islam II?
Apakah agama Islam sedang terancam? Padahal di negara ini jumlah penduduk Islam kurang lebih 90 persen dari total penduduk Indonesia. Habib, rencana aksi akbar Demo Bela Islam II itu sudah memberi dampak kekuatiran yang meluas. Bukan saja warga DKI tapi seluruh publik Indonesia. Dimana-mana Aksi Bela Islam II menjadi pembicaraan hangat.
Apakah seorang Ahok mesti di lawan dengan ratusan ribu umat? Padahal kasus itu sudah dilimpahkan ke Kabareskrim Polda Metro Jaya.
Apakah habib tidak percaya lagi dengan hukum di Indonesia?
Ah, sudahlah. Saya hanya bisa mendoakan dan memberi dukungan kepada anggota POLRI dan TNI yang bertugas. Di saat seperti inilah mereka menjadi sahabat masyarakat. Salam,
Label:
habis rizieq,
ketua fpi,
panglima fpi
Lokasi:
Indonesia
Wednesday, 2 November 2016
Surat Terbuka Buat Presiden Jokowi | News Nakashima
Pak Jokowi Tetaplah Setia Pada Konstitusi, Tak Perlu Takut Pada Ancaman
Pak Jokowi, kami tahu saat ini tekanan terhadap Bapak Presiden Jokowi agar menarik Ahok dari pencalonan gubernur begitu keras. Pak Jokowi seakan akan dijadikan pasien kronis sebuah penyakit. Penyakit kebencian akut yang dipaksa untuk menerima resep simalakama. Tarik Ahok atau lihat apa yang terjadi !!!
Resep pemaksaan ini hampir serupa dan sama dengan resep FPI dua tahun lalu saat mereka demo menolak pelantikan Ahok sebagai gubernur DKI Jakarta.
Ekspresi kebencian pada Ahok saat mereka demo menolak Ahok dilantik itu berisi sumpah serapah, caci maki, hujatan, fitnah, ancaman, gertakan dan penistaan bahwa orang kafir haram menjadi gubernur. Bedanya kali ini mereka memasukkan konten dering lagu keseleo lidah Ahok saat memberi sambutan di Kepulauan Seribu.
Pak Jokowi....
Bagi kita ini bukan soal Ahok semata. Ahok hanya sebuah nama. Bagi kita ada sekelompok orang yang memaksakan pikiran dan syahwatnya untuk meruntuhkan hukum dan sendi sendi berbangsa dan bernegara.
Bukankah Ahok sedang diproses hukum atas ucapannya? Bukankah semua pihak yang terlibat sedang dalam pemeriksaan? Mengapa tidak kita tunggu dan hormati saja hukum dan undang undang itu berproses?
Pemaksaan kehendak dengan ancaman itu mencabik nilai nilai konstitusi kebangsaan kita. Konstitusi yang menulis bahwa semua orang sama kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan. Semua orang sejajar, setara, equal before the law.
Mereka mencari cari alasan dengan segala cara untuk merobohkan tiang-tiang demokrasi dan hukum. Demokrasi dan hukum yang ditegakkan berlumuran darah dan air mata dari pendiri bangsa kita saat mereka merebut kemerdekaan.
Kemerdekaan yang membuka jalan keadilan bagi setiap anak bangsa.
Kemerdekaan yang menjadi jalan bagi segenap anak bangsa untuk bebas berbakti dan mengabdi bagi negeri tanpa diskriminasi.
Kemerdekaan ini kita rebut agar kesetaraan dalam hukum dan pemerintahan berlaku sejajar dan setara tanpa pandang ras, suku, agama dan golongan.
Beberapa bulan belakangan ini kita merasakan getaran kebencian rasisme atas nama agama dan suku memenuhi ruang publik kita. Dikoar koarkan terus menerus. Diledakkan di atas tanah bumi pertiwi. Bumi Indonesia yang sama sama kita dirikan bersama dengan para founding fathers republik ini.
Negara kita Republik Indonesia yang merdeka 1945, disulam dan dirajut dari ribuan suku, dari ribuan jejeran pulau Sabang sampai Merauke. Ada jutaan doa doa permohonan dan pengharapan dari ratusan iman aliran kepercayaan yang dianut jutaan anak bangsa.
Mereka berdiri teguh meneriakkan "Mereka atau Mati !!!" tanpa melihat dari mana agama dan sukunya. Dengan tinta darah dan air mata leluhur kita bersumpah setia mendirikan negara ini karena memiliki cita cita dan mimpi yang sama.
Cita cita untuk bebas dari rasa takut dan teror.
Cita cita untuk mendapatkan keadilan dari penindasan.
Cita cita untuk merdeka dari kebodohan dan kemiskinan.
Cita cita untuk berdiri sama tegak duduk sama rendah.
Cita cita untuk setara dan sejajar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Kini sulaman dengan warna darah merah membara itu hendak dikoyakkan. Tenunan kebangsaan dan kebhinekaan itu hendak dicabik-cabik. Rajutan mozaik Bhineka Tunggal Ika itu hendak dikaburkan warnanya. Ditimpa dengan warna debu kelabu milik mereka. Warna kebencian pada anak bangsa yang berbeda agama dengan mereka.
Cairan kebencian itu terus menerus mereka suntikkan ke dalam tubuh bangsa dan negara kita. Cairan berwarna kelabu penuh kebencian dan permusuhan pecah belah ini perlahan melumpuhkan harmoni dan kedamaian kita berbangsa dan bernegara. Perlahan akan mematikan rasa persatuan ke Indonesiaan kita. Lambat laun akan melumpuhkan solidaritas kebangsaan kita. Pelan namun pasti akan merusak kesetiakawanan sosial kita.
Pak Presiden Jokowi...
Bagi kita, pikiran jahat yang merongrong konstitusi ini tidak boleh dibiarkan. Ini tidak bisa diberi tempat.
Sejarah panjang republik tidak boleh tunduk dan takluk atas ancaman, gertakan, caci maki, hujatan, hinaan, sumpah serapah, celaan dan cemoohan.
Kita tidak boleh tunduk dan takluk pada teror dan ancaman. Kita sudah tunjukkan bagaimana kita bersikap ketika ayah-kakek kita ditelanjangi, disiksa, dirampas hidupnya oleh para penjajah.
Kita melawan meriam penjajah dengan kepalan tangan terkepal, dengan semangat pantang menyerah. Republik akan terus bertahan dengan nilai nilai konstitusi pendiri bangsa. Sejarah sudah membuktikannya.
Saya menyeru kepada Bapak Jokowi dan seluruh elemen bangsa yang mencintai tanah air Indonesia, jangan kita biarkan rajutan, sulaman dan tenunan kebangsaan Indonesia, Tanah Air kita, terkoyak, tercabik cabik, rapuh dan lapuk oleh sekelompok orang.
Di sinilah kita berdiri
Di sinilah kita berpegang teguh
Di sinilah kita berikrar
Di sinilah kita berbakti
Bagimu negeri jiwa raga kami.
Ahok sudah meminta maaf namun tidak mendapat maaf. Ahok sedang dalam proses hukum sesuai tuntutan kalian, tapi tetap dipaksa dan dihakimi.
Jika memang Ahok harus masuk penjara karena hukum dan undang undang yang memerintahkannya bersalah, biarlah Ahok dan kita taat pada hukum dan konstitusi negara.
Biarlah kita menerimanya dengan lapang dada. Ahok dihukum oleh undang undang, Indonesia akan tetap bercahaya dan bersinar. Indonesia tetaplah Indonesia.
Namun jika Ahok dipaksa mundur bukan karena proses hukum tapi hanya karena ancaman dan tekanan, pilihannya ada dua saja.
Berdiri tegak terhormat atau terbungkuk karena teror rasa takut.
Tetap jaga konstitusi NKRI dengan setia Pak De.
Salam Pancasila Rumah Kita,
artikel by Birgaldo Sinaga
Friday, 23 September 2016
PENANTANG AHOK DI PILGUB DKI 1 DARI JAWA TENGAH
Parang: Jakarta saat ini memperebutkan kursi untuk DKI 1. Gubenur basuki cahya purnama (ahok) kini banyak di perbincangkan di mensos dan berita lainya, setiap media memberitakan tentang lawan dan lawan ahok, bahkan seorang prajurit TNI yang karirnya sangat luar biasa selama dia bertugas rela mundur demi untuk menantang / melawan basuki cahya purnama. terus terang saya kurang mengerti tentang politik.
Yang sesungguhnya penantang ahok itu ada di desa parang karimunjawa
Yang sesungguhnya penantang ahok itu ada di desa parang karimunjawa
BPK.ZAENAL ARIF
ISLAM
ANAK 2
MASIH MUDAH KAN.HEHE
Beliau adalah warga desa parang kec.karimunjawa kab.jepara
Dia calon kades/lurah yang paling mudah di desa parang dan beliau tidak ada lawanya seperti pilkada di DKI . Bahkan bapak zaenal ini mencari lawanya sendiri untuk mengesahkan peraturan pencalonanya .Karena itu kami usulkan bahwa lawan mutlak untuk ahok itu bpk zainal arifin.
MENUJU PARANG 01
Semoga bisa menyandang amanah dan jujur,santun,dan profesional.
Kami atas nama warga desa parang berharap agar desa kami makin sejahtera,aman,makmur intinya lebih baik dari sebelumnya .
Saya yakin warga masyarakat parang bisa lebih baik dan kreatif dalam segalahal dan bidang mereka masing2 jika dapat dorongan dari orang desa.
Selama ini yg saya tau tentang warga adalah ingin menyampaikan keluh kesah mereka tapi mereka gk tau knpa , apa karena takut atau malu saya pun kurang mengerti.
Saya sadar kami minim akan pengetahuan.
Semoga bapak zaenal arifin menjadi pemimpin yang amanah dan bertanggung jawab.
Terimakasi
Saya
ALI ROCHMAD
BIN NURWAHIT
BINTI NIRHAYATI
SEKELUARGA MENGUCAPKAN SELAMAT ATAS SUKSESNYA BPK ZAENAL ARIFIN DI PENCALONAN KADES DI DESA PARANG.
Thursday, 21 July 2016
Pengacara Jessica dan Hakim Binsar Berondong Barista Soal Air Panas
Jakarta - Pengacara Jessica Kumala Wongso, Otto Hasibuan,
mempertanyakan air panas sisa dari campuran kopi es Vietnam yang disajikan
untuk Wayan Mirna Salihin kepada saksi barista Olivier Cafe, Rangga. Hakim
Binsar Gultom pun mempersoalkan hal yang sama.
Dalam sidang yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta
Pusat, Jl Bungur Besar Raya, Kemayoran, Jakpus, Kamis (21/7/2016), Rangga
mendapat banyak pertanyaan dari hakim Binsar dan Otto. Salah satu fokus mereka
adalah memberondong Rangga dengan pertanyaan soal air panas.
Persoalan air panas ini dianggap penting oleh kubu Jessica,
sebab menjadi salah satu alibi yang menunjukkan bahwa sumber racun sianida di
gelas kopi Mirna, bisa saja berasal dari teko berisi air panas. Mereka ingin
membuktikan kemungkinan-kemungkinan lain terkait asal usul racun.
"Air panas dimasukin ke teko bisa dipakai yang lain
lebih dari satu gelas. Gelasnya langsung dicuci, di dalam teko itu ada sisa
air. Anda tahu sisa air itu di mana?" tanya Otto.
Otto Hasibuan dan Jessica (foto: Ari Saputra)
Rangga menjawab, dalam standar operasional kafe, setiap air
panas yang sisa harus dibuang. Alasannya, air itu suhunya tidak lagi memenuhi
syarat untuk menyeduh kopi. Minimal suhu untuk melarutkan kopi adalah 80 sampai
90 derajat celcius.
"Kecuali ada yang mesan 3 langsung itu bisa pakai satu
teko yang sama," jawab Rangga.
Otto tak puas. Dia mencecar Rangga, apakah membuang air
panas sisa pesanan Jessica. Rangga pun menjawab tidak tahu. Rangga menyebut,
air panas sisa itu dibawa ke pantry, lalu dibuang di sana. Sebab, saat Rangga
hendak mengambil teko, isinya sudah tak ada.
"Saya kurang tahu, pokoknya itu langsung saya ambil
dari pantry. Teko lainnya ada di atas saya," jawab Rangga.
Hakim Binsar Gultom (Ari Saputra)
Hakim Binsar pun mempertanyakan soal air panas ini. Hakim
berkacamata itu mencecar Rangga bahkan menuding saksi tersebut berbelit-belit
dalam memberikan penjelasan.
"Menurut saksi sebelumnya, itu sisa air panas itu masih
bisa dikasih ke konsumen lain karena bisa dua atau 3 gelas lebih. Ini Saudara
membuang air itu, anehnya teko itu belum Saudara cuci. Jujur siapa yang
menyuruh air itu dibuang? Jujur!" kata hakim Binsar.
Menurut Rangga, air panas itu dibuang karena hanya digunakan
untuk satu pemesan. Sesuai standar, sisanya dibuang karena suhunya akan menurun
dan tak bisa lagi digunakan untuk menyeduh kopi.
"Kalau dipakai lagi itu memang bisa dipakai kalau
ordernya bareng. Kalau ada satu, sisaan itu langsung dibuang. Kan air panas,
nanti udah dingin," jawabnya.
"Setelah Jessica mesan tidak ada pemesan lain. Makanya
air dibuang," sambungnya.
"Kan banyak orderan?" tanya hakim Binsar.
"Nggak ada lagi yang order es kopi Vietnam. Ada lagi
pukul 20.00 WIB pas take away," jawab Rangga.
"Ada nggak yang nyuruh Saudara buang air itu?"
tanya hakim Binsar lagi.
"Nggak ada," jawab Rangga singkat.
Hakim Binsar kemudian menyampaikan, selama ini Jessica yang
disalahkan terkait kematian Mirna. Namun dia menyebut, ingin 'share' kesalahan
dan membuka kemungkinan pihak lain yang bersalah.
(mad/nrl)
Wednesday, 20 July 2016
Gubernur Ganjar Sebut Pokemon Go Bisa Dongkrak Pariwisata Jateng
Semarang - Pokemon Go menjadi game yang dianggap bermanfaat
bagi pariwisata. Objek wisata dan taman yang dijadikan Pokestop atau Gym
sehingga banyak dikunjungi, namun pemainnya tetap perlu kontrol diri.
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan Pokemon Go
bisa menjadi hal positif untuk 'menjual' obyek wisata. Namun pengelola tempat
wisata juga harus kreatif dan inovatif.
"Menjadi penting kalau kita bisa inovatif dan kreatif misalnya dengan jualan pariwisata, Pokemon-nya ada di Lawang Sewu, Borobudur, Prambanan, maka orang akan datang ke sana," kata Ganjar di kantor Gubernur Jateng, Jalan Pahlawan, Semarang, Rabu (20/7/2016).
Meski bisa bermanfaat, lanjut Ganjar, jika tidak bisa
mengendalikan diri dalam bermain Pokemon Go, maka hasilnya akan buang-buang
waktu. Menurut Ganjar, orang tua juga perlu melakukan pengawasan terhadap
anaknya yang ikut dilanda 'demam' Pokemon Go.
"Perlu pengawasan. Pengawasan itu penting agar anak
tidak ketagihan bermain Pokemon Go," tandasnya.
Tidak hanya anak-anak, Ganjar menegaskan para Pegawai Negeri
Sipil (PNS) yang ikut bermain Pokemon Go agar sadar diri dan tidak mengganggu
kinerjanya. Ia tidak mengeluarkan larangan khusus untuk PNS agar tidak mencari
Pikachu dan kawan-kawannya itu, namun Ganjar berharap mereka tahu diri.
"PNS ya harus tahu dan sadar diri. Main itu (Pokemon
Go) ya itu boleh, tapi harus tahu waktu. Kalau dilarang justru akan
nyolong-nyolong untuk bermain. Kita butuh kesadaran," tegasnya.
Game berbasis teknologi augmented reality tersebut banyak
dipakai oleh gamers dari seluruh dunia termasuk di Indonesia. Sedangkan di Kota
Semarang sendiri, seluruh tempat wisata menjadi Gym tempat mengadu Pokemon,
sedangkan puluhan taman kota merupakan Pokestop dengan dilengkapi Wi-Fi gratis.
(alg/dhn)
Kapolri Jenderal Tito Karnavian: Jangan Anggap Santoso Pahlawan!

"Nanti setelah tes DNA confirmed, nanti akan
dibicarakan dengan kapolda, gubernur. Jangan sampai yang bersangkutan dianggap
sebagai pahlawan," ujar Tito kepada wartawan di Palu, Sulawesi Tengah,
Rabu (20/7/2016).
Jenderal bintang empat ini menegaskan bahwa Santoso dan
kelompoknya merupakan pelaku kejahatan. Sebab ada banyak aksi teror sadis yang
sering dilakukannya selama masa pelarian mereka di pegunungan di wilayah Poso.
"Bagi kami mereka pelaku kejahatan. Yang bersangkutan
melakukan kejahatan, banyak yang tidak bersalah dipotong lehernya dan
lain-lagi. Bagi kita dia pelaku kejahatan," tegas Tito.
Tewasnya Santoso disebutnya akan membuat jaringan
kelompoknya kehilangan orientasi. Namun menurut Tito bukan berarti hal tersebut
akan menghilangkan kelompok-kelompok teroris yang ada di Indonesia.
"Dengan dinetralisirnya Santoso, bukan menghapus
jaringan teroris, karena masih ada sel-sel teroris lain. Ini akan kita tangani
bersama Panglima TNI," ujar dia.
Awal keterlibatan Santoso dalam aksi terorisme adalah ketika
awal tahun 2000-an dia direkrut oleh Jamaah Islamiyah (JI) Poso pimpinan
Hasanuddin. Saat itu Panglima JI Poso adalah Haris.
Setelah Hasanuddin, Haris dan sejumlah pimpinan JI Poso
berhasil dilumpuhkan, Santoso menjadi sosok yang ditokohkan. Domisili Santoso
di Poso kian menjadikan dia sebagai figur utama.
Santoso tewas dalam baku tembak dengan Satgas Tinombala pada
Senin (18/7/2016) di sebuah hutan lebat di Pegunungan Biru, Tambarana,
Kecamatan Poso Pesisir Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Meski begitu,
masih ada sekitar 19 pengikut Santoso yang hingga kini terus dikejar oleh
Satgas Tinombala.
"Secara pribadi saya mengimbau kepada saudara-saudara
kita yang masih di atas agar turun gunung untuk menghadapi proses hukum. Kami
akan bantu yang bersangkutan, yaitu keluarganya," tutur Tito.
"Demi kemaslahatan umat yang ada di Poso. Karena dengan
adanya operasi seperti ini membuat masyarakat tidak nyaman," imbuh mantan
Komandan Densus 88 itu.
Kelompok Jamaah Islamiyah menjadikan Poso sebagai basis
teritorial yang aman atau Qoidah Aminah. Ada sejumlah alasan, seperti Poso jauh
dari Jakarta sebagai pusat pemerintahan sehingga sulit dipantau. Alasan
lainnya, masyarakat Poso yang baru selesai dilanda konflik juga dianggap mudah
dipengaruhi dan kondisi geografis berupa pegunungan yang ideal sebagai tempat
gerilya.
"Jadi nilai strategis dipatahkannya Santoso ini, figur
hilang, kelompok mereka mengalami disorientasi dan qoidah aminah ini
gagal," jelas Tito.
Santoso alias Abu Wardah alias Bos alias Komandan alias
Kombes lahir di Tentena (Poso), 21 Agustus 1976. Dia menghabiskan masa kecil di
Tentena hingga tamat Sekolah Menengah Pertama pada 1992. Pada April 2016 lalu,
detikcom menelusuri Tentena untuk mencari jejak Santoso. Santoso dan
keluarganya pindah dari Tentena setelah meletus kerusuhan pada kurun waktu
1996-1997.
Setelah meletus kerusuhan di Tentena, Santoso pindah ke
Dusun Bakti Agung, Desa Tambarana Trans, Kecamatan Poso Pesisir Utara, Kabupaten
Poso. Di sinilah kemudian Santoso menemukan Warni, tambatan hatinya yang dia
nikahi pada tahun 1998. Sejak itulah Santoso menetap dan tinggal bersama
istrinya di Bakti Agung. Santoso tak pernah menunjukkan perilaku aneh atau
mencurigakan.
Santoso menghilang dari Bakti Agung, Tambarana, pada kurun
waktu tahun 2000-an. Sejak itu tak ada yang mengetahui keberadaan Santoso.
Tahun 2004 untuk pertama kalinya Santoso terlibat perkara pidana umum. Dia ikut
dalam aksi perampokan mobil boks distributor Djarum Super pada tanggal 3
Agustus 2004. Atas aksinya tersebut dia divonis hakim Pengadilan Negeri Palu
dengan hukuman penjara 5 tahun. Lepas dari penjara, Santoso dan kelompoknya
membangun basis pelatihan di Dusun Tamanjeka, Desa Masani, Poso Pesisir, Poso.
Salah satu yang pernah merasakan 'sentuhan' latihan militer
ala Santoso itu adalah Rafli alias Furqon (28). Rafli baru saja mendapatkan
status bebas bersyarat dari Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan atas vonis 8
tahun penjara karena terlibat penembakan dua anggota polisi di Palu pada 25 Mei
2011. Bersama Rafli, ada tujuh anggota lain yang semuanya diajar oleh Santoso.
Materi yang diajarkan kala itu menyangkut pemahaman soal agama termasuk tata
cara salat dan membaca Alquran. Baru setahun kemudian Rafli dan teman-temannya
diberikan pelatikan fisik di hutan yang posisinya persis di atas Dusun
Tamanjeka. Dalam latihan tersebut diajarkan pula menembak menggunakan senjata
api. Santoso sendiri yang memberikan latihan menembak.
Dari Dusun Masani di Tamanjeka, Santoso mengendalikan
sejumlah aksi teror di Poso, Sulawesi Tengah. Santoso kemudian melarikan diri
ke Pegunungan Biru, Poso, yang berhutan lebat dan tewas dalam baku tembak
dengan Satgas Tinombala.
(elz/dhn)
Beredar Foto Ibu Susi Pudjiastuti Mengepalkan Tangan ke Ahok, Ada Apa?
Jakarta - Ada hal unik yang terjadi saat pelantikan Kepala
BNPT Komjen Pol Suhardi Alius dan Kepala BPOM Penny Kusumastuti Lukito di
Istana Negara, Jakarta. Di sela acara itu, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi
Pudjiastuti tertangkap dalam frame saat mengepalkan tangan ke Gubernur DKI
Basuki Tjahaja Purnama (Ahok).
Apa yang terjadi?
Foto yang dimaksud telah beredar di dunia maya itu. Dalam
foto itu terdapat kombinasi tiga frame. Frame pertama, terlihat Ahok sedang
berbincang dengan Susi sambil mengacungkan telunjuk tangan kirinya. Namun Susi
hanya tampak bagian belakangnya saja.
Di frame kedua, terlihat Susi mengepalkan tangan kanannya ke
arah Ahok dengan mimik muka menggerutu. Ahok yang berdiri di sebelah Juru
Bicara Presiden Johan Budi SP itu terlihat tertawa.
Di frame ketiga, terlihat mimik muka Susi yang cemberut.
Posisi berdiri Susi persis di sebelah Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo.
Sementara, di frame itu Ahok terlihat masih tertawa.
Saat dikonfirmasi, Susi mengatakan perbincangan dirinya
dengan Ahok saat itu berkaitan dengan rokok. Susi membantah jika
perbincangannya berkaitan dengan pembatalan reklamasi Pulau G di pantai utara
Jakarta.
"Saya tadi komplain, di Jakarta itu susah sekali ruang
untuk merokok," kata Susi saat dikonfirmasi di Kompleks Istana
Kepresidenan, Jakarta, Rabu (20/7/2016).
Diwawancara terpisah di Balai Kota DKI Jakarta, Ahok juga
menceritakan hal yang sama. Rupanya Ahok agak melempar canda ke Susi soal
rokok.
"Bu Susi kan buka tas, dia ngeluarin tisu, biasanya kan
ngeluarin rokok , eh gue bilang 'lu enggak boleh ngerokok yah', saya mau
becandain saja," tutur Ahok.
Momen itu terjadi saat menunggu prosesi pelantikan dimulai.
Presiden Jokowi belum hadir di ruangan tersebut.
(bag/dhn)
Label:
berita terbaru,
news indonesia
Lokasi:
United States
Subscribe to:
Posts (Atom)




