NEWS NAKASHIMA
Friday, 4 November 2016
Salam Untuk Panglima FPI Habib Rizieq
Yang terhormat Habib Rizieq,
Kami di daerah sudah lama mengenal Bapak Habib Rizieq Shihab sebagai Panglima dan Ulama Besar Front Pembela Islam (FPI). Nama bapak ada gelar habib-nya. Sebuah gelar yang sangat amat mulia. Saya sudah bisa membayangkan di daerah asal bapak di negeri Arabia sana, pasti karir bapak jauh lebih mentereng dibandingkan berkarir di Indonesia. Apalagi bapak hanya menjadi panglima di salah satu kelompok organisasi masyarakat (ormas) yang tanpa berbadan hukum.
Bapak juga sekarang berada di sebuah negeri yang memiliki falsafah hidup Pancasila yang sangat kau benci itu. Negeri yang pluralis.
Walaupun demikian, bapak adalah tokoh yang fenomenal di negeri yang majemuk ini. Posisi bapak sekelas legenda hidup Bang Haji Rhoma Irama. Di saat Bang Haji namanya tak kedengaran, nama habib makin dan terus terkenal. Hebatkan? Saya juga tahu teman-teman bapak itu semuanya politisi kelas wahid. Mereka juga adalah orang-orang yang terkenal di negeri ini. Makanya semua orang pada takut kalau mau menghadapi engkau.
Tapi, sikap dan perangai bapak akhir-akhir ini cukup menggentarkan negeri ini. Kami sekelompok anak muda yang ingin hidup damai di negeri ini merasa terganggu dengan sikap Anda dalam menghadapi keberagaman yang adalah suatu keniscayaan bagi Indonesia.
Bapak Habib Rizieq yang terhormat,
Apakah bapak bisa menjadi seorang panglima pemberani yang membela Islam di negara-negara yang sedang dikuasai oleh ISIS?
Dengar-dengar mereka juga meminta bantuan dari negara-negara yang kau cap kafir itu supaya mereka bisa hidup damai. Akhirnya habib benar. Orang kafir itu memang salah dan bodoh. Salah dan bodoh karena suka menolong sesama manusia.
Bapak habib Rizieq, apakah Indonesia itu tidak aman sehingga butuh pembelaan yang luar biasa sampai-sampai mengobarkan isu SARA segala?
Jalan-jalanlah ke Nusantara nan indah ini, bib. Coba berkunjunglah ke Kupang betapa rukunnya mereka di sana. Tidak ada kata haram segala atau kofar – kafir di sana seperti yang sering keluar dari mulutmu itu. Atau ke kota Ende yang sudah menjadi Kota Pancasila. Ketika Katolik dan Islam hidup rukun di sana. Atau berkunjunglah ke kota Waingapu di Taman Kota-nya kami duduk menikmati malam tanpa nunjuk-nunjuk dan bertanya : hai apa agama kau? Apakah itu tidak menyenangkan, bib?
Saya tahu masalah primordialisme ada dimana-mana dalam proses menentukan calon pemimpin. Tapi kalau demo karena masalah SARA yang terang benderang seperti di Jakarta kami sangat malu. Amat malu. Dan ini jarang terjadi di NTT. Tapi di kota kebesaranmu Jakarta demontrasi tentang SARA seperti ingin menunjukan jati diri siapa dirimu.
Padahal sejak dahulu kala ketika saya bisa mendengar dan membaca yang saya tahu bahwa Bhineka Tunggal Ika itu berbeda-beda tetapi tetap satu. Itu nama mata pelajarannya Pendidikan Moral Pancasila, bib.
Habib, kenapa mesti ada demo Aksi Bela Islam II?
Apakah agama Islam sedang terancam? Padahal di negara ini jumlah penduduk Islam kurang lebih 90 persen dari total penduduk Indonesia. Habib, rencana aksi akbar Demo Bela Islam II itu sudah memberi dampak kekuatiran yang meluas. Bukan saja warga DKI tapi seluruh publik Indonesia. Dimana-mana Aksi Bela Islam II menjadi pembicaraan hangat.
Apakah seorang Ahok mesti di lawan dengan ratusan ribu umat? Padahal kasus itu sudah dilimpahkan ke Kabareskrim Polda Metro Jaya.
Apakah habib tidak percaya lagi dengan hukum di Indonesia?
Ah, sudahlah. Saya hanya bisa mendoakan dan memberi dukungan kepada anggota POLRI dan TNI yang bertugas. Di saat seperti inilah mereka menjadi sahabat masyarakat. Salam,
Label:
habis rizieq,
ketua fpi,
panglima fpi
Lokasi:
Indonesia
Subscribe to:
Posts (Atom)
